ads

Indosiar adalah salah satu jaringan televisi swasta nasional di Indonesia. Jaringan ini beroperasi dari Daan Mogot, Jakarta Barat. Indosiar awalnya didirikan dan dikuasai oleh Salim Group. Pada tahun 2004, Indosiar merupakan bagian dari PT Indosiar Karya Media Tbk (sebelumnya PT Indovisual Citra Persada) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta).

Pada 13 Mei 2011, mayoritas saham PT Indosiar Karya Media Tbk dibeli oleh PT Elang Mahkota Teknologi Tbk, pemilik SCTV (melalui SCM sebelum bergabung dengan IDKM), menjadikan kedua jaringan televisi berada dalam satu pengendalian. Kini, jaringan televisi ini resmi dikuasai oleh SCM pasca bergabung dengan IDKM dan “bersaudara” dengan SCTV.

Sejarah Indosiar

Ide dari Grup Salim untuk memiliki sebuah televisi swasta sebenarnya sudah ada ketika pemerintah mengeluarkan izin bagi RCTI untuk berdiri sebagai stasiun televisi swasta pertama di Indonesia di tahun 1989. Adanya keuntungan dari TV swasta dan kerajaan bisnis Grup Salim yang merambah ke berbagai sektor, membuat adanya “keharusan” bagi mereka untuk memiliki stasiun TV sendiri. Bak gayung bersambut, pemerintah kemudian memberikan izin kepada perusahaan patungan antara Grup Salim dan koran Suara Merdeka di Semarang untuk membangun sebuah stasiun televisi lokal. Nama televisi itu adalah Merdeka Citra Televisi Indonesia (MCTI).

ads

Izin pendiriannya sendiri dikeluarkan pada 21 Agustus 1991 dan dimiliki secara patungan masing-masing 60% untuk Salim dan 40% untuk Suara Merdeka. Untuk mempersiapkannya, Salim kemudian melakukan kerjasama dengan TVB Hong Kong yang ditempatkan di kantor pusat MCTI di Semarang.[4] Selain itu, Salim juga merencanakan membangun salah satu stasiun televisi lagi di Batam. Stasiun televisi itu diberi nama Ramako Indotelevisi (RIT TV), yang merupakan patungan dari Grup Salim dan Grup Ramako (milik Bambang Rachmadi).[5] Pembangunan stasiun TV di daerah tersebut, disebabkan oleh sikap pemerintah yang pada saat itu hanya membolehkan satu stasiun TV swasta di daerah masing-masing.

Streaming Indosiar

Namun, kemudian Salim memutuskan untuk mengubah rencananya dengan membangun suatu TV swasta nasional. Dalam lobi yang dilakukan oleh Anthony Salim dengan Presiden Soeharto di Eropa, Anthony mengusulkan pembentukan stasiun TV yang mengurusi masalah-masalah ekonomi, khususnya ekonomi pedesaan. Sementara itu, dari pihak lain yaitu Eko Supardjo Rustam (anak mantan Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam) dan Mendagri muncul ide untuk membangun stasiun TV yang berada di Jawa Tengah, untuk menyiarkan siaran berbasis budaya Jawa.

Presiden Soeharto kemudian memutuskan untuk menggabungkan ide mereka dalam bentuk satu perusahaan, yaitu PT Indosiar Visual Mandiri, yang bertujuan untuk menyiarkan acara berbasis ekonomi pedesaan dan kebudayaan. Secara resmi, PT Indosiar Visual Mandiri resmi didirikan pada 19 Juli 1991, dan mendapat izin siarannya pada 18 Juni 1992. Layaknya TPI, stasiun TV ini dimaksudkan untuk bersiaran secara nasional dengan sifat khusus (dinamakan Stasiun Penyiaran Televisi Swasta Khusus/SPTSK) karena memiliki tujuan tertentu, bukan sekadar hiburan semata, tidak seperti stasiun TV swasta lain yang hanya diizinkan bersiaran secara lokal.

Memang terdengar “aneh”, tapi memang begitulah kebijakan pemerintah Orde Baru untuk memberikan keleluasaan pada kroni-kroninya, dalam hal ini Grup Salim. Belum lagi beroperasi, setahun kemudian yaitu pada 30 Januari 1993, Indosiar bersama 4 stasiun TV swasta yang sudah ada (RCTI, SCTV, TPI dan ANteve) diizinkan untuk bersiaran dengan status yang sudah diubah, yaitu Stasiun Penyiaran Televisi Swasta Umum (SPTSU). Jika bagi stasiun TV seperti SCTV dan RCTI dengan keputusan ini maka mereka dapat bersiaran nasional, tetapi bagi Indosiar, berarti mereka bebas dari “komitmen” yang melekat pada SPTSK tersebut. Inilah yang akhirnya membuat Indosiar mampu menyiarkan acara hiburan pada awal pendiriannya. Pada akhirnya, dua stasiun TV swasta lokal lain yang direncanakan berdiri dan sebagian sahamnya dimiliki Grup Salim, yaitu MCTI dan Ramako Indotelevisi di Batam, kemudian memutuskan untuk meleburkan diri mereka dalam Indosiar.

Melanjutkan kerjasama yang dijalin sejak masih berniat membentuk MCTI, Indosiar kemudian menjalin hubungan dengan TVB yang memang sudah berpengalaman dalam industri TV di daerah tersebut sehingga diharapkan bisa memberikan pengetahuan pada pekerja Indosiar. Kerjasama ini diwujudkan dengan mencontoh tindakan TVB dengan membangun studio bagi produksi acara sendiri yang paling modern di Indonesia. Selain itu, Indosiar juga mendatangkan langsung 150 tenaga kerja asing, yang cukup banyak berada di posisi-posisi penting seperti divisi produksi, perencanaan dan pemasaran langsung dari TVB.

Sayangnya, kebijakan mendatangkan 150 TKA ini langsung menimbulkan kontroversi karena dianggap bisa berbahaya bagi kebudayaan nasional (misalnya karena isu mereka akan memproduksi 800 serial tiruan asing) dan dianggap melanggar peraturan pemerintah. Mengetahui hal itu, sebulan sebelum bersiaran (18 Desember 1994), manajemen Indosiar memutuskan untuk mengurangi karyawan TVB hanya menjadi 30 orang saja. Mereka kemudian terus dikurangi dengan meningkatkan pelatihan pada karyawan Indosiar yang sudah ada sehingga pada akhirnya pada 1996, hampir tidak ada lagi TKA dari TVB di sana (ada yang berpendapat, polemik ini tidak lebih merupakan bentuk ketidaksukaan atas seorang pengusaha nonpribumi yang memiliki sebuah stasiun TV).

Hasil kerjasama dari TVB itulah, adalah bentuk logo Indosiar yang sangat mirip dengan logo Television Broadcasts Limited, Hong Kong dan berbagai program drama Asia yang akan ditayangkan di awal siarannya. Dalam hal pendanaan, pembentukan Indosiar sendiri memakan investasi sebanyak US$ 200 juta.

Terlepas dari hal tersebut, Indosiar tetap melanjutkan kegiatannya dan melakukan siaran percobaan pada tanggal 19 Desember 1994 mulai pukul 19.00 hingga 21.30 WIB atau 22.00 WIB bahkan 22.30 WIB (bisa bertambah jika ada siaran kenegaraan ataupun keagamaan yang direlay TVRI) di wilayah Jakarta (41 UHF), Bandung (54 UHF), Semarang (27 UHF), Yogyakarta (28 UHF), Surabaya (28 UHF), Denpasar (27 UHF), Medan (23 UHF) dan Ujung Pandang (27 UHF), diundur dari rencana awal pada Juli dan Agustus 1994.[11] Siaran percobaannya pada saat itu hanya menyiarkan sebuah film lepas pilihan dan dua siaran berita dari TVRI (Berita Malam dan Dunia Dalam Berita).

Akhirnya, Indosiar resmi mengudara pada 11 Januari 1995, diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko dan mengawali siaran resminya dengan program “Pesta Semarak Indosiar” yang disiarkan langsung mulai jam 19.30 WIB hingga 21.30 WIB. Awalnya, siaran Indosiar hanya berlangsung dari jam 16.00 WIB hingga 24.00 WIB, tetapi sejak 1997 siarannya mulai dilakukan sejak pagi (kecuali untuk akhir pekan, yang sejak awal bersiaran sudah dimulai dari jam 06.00 WIB). Dalam awal bersiaran, Indosiar langsung menggebrak dengan berbagai program hiburan, terutama berupa drama-drama Hongkong.

Seperti misalnya serial Return of The Condor Heroes yang dibintangi oleh Andy Lau, To Liong To yang dibintangi oleh Tony Leung yang keduanya cukup populer di kalangan penonton. Demi memuaskan keinginan pentonton akan banyaknya siaran asing ini, Indosiar bahkan langsung meluncurkan teknologi baru yaitu NICAM yang menghasilkan suara jernih. Indosiar juga menciptakan acara tradisional yang sudah ada di TVRI namun dengan gaya modern seperti Srimulat. Selain itu, Indosiar banyak menekankan kebudayaan. Salah satu program kebudayaan yang selalu ditayangkan adalah acara pertunjukan wayang pada malam minggu.

Penayangan acara ini tidak lain merupakan perwujudan dari keinginan awal Presiden saat Indosiar didirikan pada 1992, yaitu menyiarkan acara yang kental dengan kebudayaan (dalam hal ini kebudayaan Jawa). Secara umum, Indosiar pada saat itu menargetkan pasar keluarga, dan sudah mencanangkan diri untuk menyiarkan banyak program/film lokal dari awal, ditambah juga acara in-house (bahkan sudah menyiapkan internal production house). Namun, pada awalnya acaranya masih 70% impor-30% lokal.

Seiring perkembangan waktu dan program, Indosiar juga mempopulerkan sinetron Indonesia yang bertemakan cinta dan keluarga (dimulai sejak munculnya Tersanjung), acara-acara realitas yang melibatkan emosi penonton dan SMS secara langsung (dimulai sejak munculnya AFI), infotainment KISS (Kisah Seputar Selebritis), kuis seperti Kuis Siapa Berani dan Famili 100, dan juga program berita seperti Fokus dan Patroli. Indosiar juga pernah menayangkan kartun yang cukup banyak setiap hari Minggu yaitu dari pukul 06.30 sampai 12.00 WIB. Kartun yang pernah populer di Indosiar adalah Dragon Ball, Digimon, Pokémon, Bleach, Naruto, Gundam, dan lain-lain.

Indosiar merupakan suatu stasiun televisi yang cukup populer di Indonesia pada awal pendiriannya. Stasiun ini terkenal karena langsung menyajikan program film-film impor, dan selanjutnya sinetron keluarga. Pada tahun 1999, stasiun ini bisa dikatakan melampaui RCTI dengan pasar 34-38%. Di tahun 2002, Indosiar bahkan tercatat “menengguk” kue iklan terbesar dibanding stasiun TV lain. Pada tahun 2004-2007, program sinetron (awalnya keluarga, tetapi kemudian juga kolosal) juga cukup dibantu oleh program realitas berupa kontes bernyanyi, seperti AFI, StarDut, Mamamia, Superstar Show, Supermama Selebconcert, dan berbagai program lainnya.

Namun, memasuki akhir 2000-an, tampak program kontes menyanyi tersebut sudah tidak banyak menarik pemirsa, sehingga Indosiar mulai lebih memanfaatkan program drama FTV dan sinetron kolosal produksi Genta Buana Paramita (meski saat program kontes menyanyi tersebut masih berjaya, FTV dan sinetron tersebut sebenarnya sudah banyak beredar) serta beberapa program non-drama seperti kuis musik Happy Song dan program realitas Take Me Out Indonesia beserta beberapa program turunannya seperti Take Him Out Indonesia dan Take A Celebrity Out.

Berbagai sinetron dan program non-drama tersebut, menandakan perubahan Indosiar menjadi stasiun TV untuk penonton “kelas bawah”, bahkan sampai saat ini. Awalnya, banyak drama kolosal Indosiar, seperti Tutur Tinular Versi 2011 cukup populer, namun kemudian justru Indosiar menjadi pergunjingan di media sosial mengingat program-program drama dan FTV buatan Genta Buana itu cenderung berkualitas rendah, cerita terkadang melenceng dari sejarah seharusnya, dan menggunakan efek animasi yang masih dibawah standar. Hal-hal yang menjadi gunjingan tersebut, seperti misalnya animasi naga terbang, karakter kelelawar Jayapati (yang mirip Batman) di Tutur Tinular 2011 dan FTV Genta Buana yang backsound-nya lebih mirip dangdut India.

Akhirnya, justru pemirsa/rating Indosiar semakin menurun (hanya menduduki posisi 6), dan mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan penjualan TV ini dari Grup Salim ke EMTEK pada 2011. Setelah dikuasai EMTEK, awalnya Indosiar tetap mempertahankan program tersebut, tetapi seiring dengan menurunnya rating maka pada 2012 Indosiar mulai melakukan beberapa penyesuaian. Beberapa perubahan tersebut, seperti memperbanyak program in-house, tidak lagi menayangkan program sinetron berseri (terutama sejak 2013, tetapi sejak 2021 kembali ditayangkan) dan sinetron kolosal serta lebih menggalakkan acara realitas berjenis dangdut, seperti D’Academy, Bintang Pantura dan Liga Dangdut Indonesia.

Indosiar seperti menjadi stasiun “TV dangdut baru” yang melahirkan banyak bintang dangdut baru, semisal Lesti Kejora, Evi Anggraini, Reza Zakarya, Fildan Rahayu, Selfi Yamma, Tiara Ramadhani, Jirayut Afisan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, terkadang Indosiar juga kerap menayangkan program realitas non-dangdut seperti Golden Memories, Akademi Sahur Indonesia, Stand Up Comedy Academy dan Pop Academy. Selain itu pula, Indosiar juga makin memantapkan program FTV yang bernuansa religi (sejak 2014) seperti Azab, Suara Hati Istri dan Pintu Berkah (produksi Mega Kreasi Films).

Program-program ini cukup sukses menarik pasar masyarakat bawah, tetapi kadang-kadang dikritik oleh kalangan masyarakat atas karena inti ceritanya yang selalu monoton dan detail ceritanya cenderung kurang masuk akal. Di masa penguasaan EMTEK juga, Indosiar juga tak lagi menayangkan seluruh program kartun dan program jenis lainnya yang pernah ditayangkan selain FTV, sinetron, berita, infotainmen, gelar wicara dan pencarian bakat dan mulai menayangkan program sepakbola, seperti Liga 1 dan Piala Presiden.

Pada awal Mei 2013, Indosiar Karya Media resmi bergabung dengan Surya Citra Media dan membuat stasiun televisi ini dikendalikan oleh satu perusahaan media yang juga menguasai SCTV. Direktur Utama Indosiar saat ini adalah Drs. Imam Sudjarwo, MP.

Kepemilikan Indosiar

Indosiar awalnya merupakan perusahaan yang dimiliki dan didirikan oleh Grup Salim, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia, pada tahun 1992 hingga 2011. Dalam awal pendiriannya, Indosiar dimiliki secara patungan oleh Andree Halim dan Anthony Salim (anak Sudono Salim yang juga memiliki saham di Datakom Asia, salah satu pemegang saham saluran saudara di masa depan SCTV, salah satu pendahulu SCM Cipta Aneka Selaras, Indovision, Kabelvision dan TelkomVision) sebanyak masing-masing 50%.

Live Streaming Indosiar 1

Kepemilikan Salim di sini sebenarnya hampir terancam lenyap akibat krisis ekonomi 1997-1998 yang kemudian menyebabkan stasiun TV ini harus diserahkan kepada BPPN untuk membayar hutang BLBI ke BCA. Pada tahun 1999-2000, kepemilikan Indosiar berubah, dengan perusahaan bentukan BPPN untuk menampung aset Grup Salim yaitu PT Holdiko Perkasa memegang 67%, sedangkan dua pemegang saham sebelumnya menyatukan kepemilikan mereka dalam PT Prima Visualindo yang memegang saham Indosiar sebanyak 32%. Seiring waktu, BPPN membawa Indosiar mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada 22 Maret 2001 dengan melepas 15% kepemilikannya (bersama sedikit saham milik PT Prima) dengan nama emiten IDSR.

Lalu, di akhir 2001, BPPN (lewat PT Holdiko) kemudian menjual 49% sahamnya di Indosiar ke PT TDM Aset Manajemen[22] sehingga kepemilikan BPPN tinggal 8,25%. Kemudian PT TDM (yang banyak diduga dibekingi oleh Grup Salim, walaupun belum terbukti) menjual sahamnya ke publik sehingga menyisakan hanya 29,02% dan ditambah penjualan saham Holdiko kepemilikan publik menjadi 43%. Namun, praktis PT Prima Visualindo tetap menjadi pengendali utama Indosiar, sehingga Indosiar tetap berada di kendali Grup Salim.

Kondisi ini tetap tidak berubah dengan pembentukan perusahaan induk Indosiar, yaitu Indosiar Karya Media (IDKM) pada 4 Oktober 2004 dan penghapusan saham Indosiar setelahnya. IDKM kini menggantikan IDSR di bursa saham, tetapi tetap dengan kepemilikan yang sama yaitu Salim/PT Prima Visualindo 27%, TDM 29% dan publik 43%. Seiring waktu, saham TDM pun lenyap dan saham publik menjadi 59,17%, ditambah dengan saham PT Dinamika Usaha Jaya dan Citibank Singapura. Namun, saham PT Prima tetap.

Kondisi ini tetap berlangsung hingga ketika pada 3 Maret 2011 PT Prima Visualindo sepakat menjual 27% sahamnya ke PT Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) yang dikendalikan keluarga Sariaatmadja. Transaksinya dilakukan dengan keluarga Sariaatmadja menjual PT London Sumatra Indonesia miliknya yang merupakan salah satu perusahaan perkebunan sawit terbesar di Indonesia (yang diinginkan Grup Salim untuk memperkuat bisnis agribisnis dan barang konsumernya) sedangkan Salim menjual Indosiar pada EMTEK.

Isu penjualan ini sesungguhnya sudah muncul sejak 2007, ketika Salim berhasil menuntaskan pembelian saham London Sumatra Indonesia, tetapi tampaknya transaksi “tukar guling” ini diundur beberapa waktu. Walaupun sempat mendapat penolakan dari sejumlah pimpinan Indosiar dan adanya tuduhan monopoli oleh KPPU, tetapi EMTEK tetap berhasil mengendalikan Indosiar dan bahkan berhasil meningkatkan kepemilikannya di Indosiar sebesar 84,77% setelah tender offer.

Pada akhirnya, induk Indosiar, IDKM melakukan penggabungan usaha dengan anak perusahaan EMTEK lain yang bergerak di bidang media, Surya Citra Media (SCM) pada 2013 sehingga kini Indosiar berada di bawah satu induk dengan SCTV sampai saat ini. Namun, sisa-sisa dari Grup Salim masih dapat kita lihat di kepemilikan PT Prima Visualindo atas EMTEK sebanyak 8,15%.

Dalam perkembangan kepemilikan Indosiar, beberapa rumor juga sempat muncul misalnya, pada 2001 Bhakti Investama (yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo) berusaha mengikuti kompetisi untuk membeli 49% saham PT Holdiko di Indosiar, namun gagal karena rumor bahwa Bhakti ada di bawah kendali Grup Salim. Pada tahun itu juga, PT Prosperindo (milik Surya Paloh) juga mengikuti tender yang diadakan BPPN, tetapi gagal mendapatkan saham Indosiar. Ada juga kabar bahwa perusahaan penyiaran Filipina ABS-CBN akan membeli saham Indosiar di tahun 2000.

Pada April 2010, Chairul Tanjung yang sudah memiliki Trans TV dan Trans7 juga dirumorkan akan mengakuisisi stasiun televisi ini, yang sempat mengakibatkan kenaikan sahamnya. Isu penjualan ke Trans TV ini sesungguhnya sudah ada sejak Agustus 2006, dan manajemen pada saat itu mengatakan bahwa mereka siap berunding soal harganya. Ada juga rumor yang sempat mengatakan bahwa Erick Thohir, pemilik Mahaka Media dan salah satu perusahaan afiliasi Grup Salim di Filipina, TV5 akan mengakuisisi Indosiar.

Content Protection By Dmca.com

Post Disclaimer Negaraku Indonesia

Informasi yang terkandung dalam posting ini adalah untuk tujuan informasi umum saja. Informasi ini disediakan oleh Negaraku Indonesia dengan judul TV Indosiar dan sementara kami berusaha untuk menjaga agar informasi tetap mutakhir dan benar, kami tidak membuat pernyataan atau jaminan apa pun, tersurat maupun tersirat, tentang kelengkapan, keakuratan, keandalan, kesesuaian, atau ketersediaan dengan sehubungan dengan situs web atau informasi, produk, layanan, atau gambar terkait yang terdapat pada kiriman untuk tujuan apa pun.

Kebijakan Streaming TV Indosiar

Berikut Kebijakan dari live streaming Negaraku Indonesia :

  1. Untuk kebijakan privasi silahkan kunjungi tautan https://negara.my.id/kebijakan-privasi/.
  2. Untuk kebijakan media siber silahkan kunjungi tautan https://negara.my.id/kebijakan-media-siber/.
Apa tanggapan Anda?
0 tanggapan
Love
Love
0
Smile
Smile
0
Haha
Haha
0
Sad
Sad
0
Star
Star
0
Weary
Weary
0
Apakah TV Digital ini membantu ?
YaTidak
ads

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini